| Doa-doa Penawar |
| Letakkan tangan anda ke tempat yang sakit lalu baca doa di bawah. |
| Jika orang lain yang sakit, letakkan tangan anda ditempat yang sakit |
| lalu berdoa seperti di bawah: |
| بسم الله الر حمن الر حيم |
| Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang |
| (Dibaca 3 kali) |
| اَعُوذُ بِعِزَّةِ اللهِ وَبِقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِمَا اَجِدُ وَاُحَاذِرُ |
| Aku berlindung dengan kebesaran Allah dan kekuasaanNya |
| dan kejahatan apa yang aku deritai dan aku khuatirkan |
| Sisakit hendaklah memperbanyakkan bacaan berikut : |
| لا اِلهَ اِلا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ , لا اِلهَ اِلا اللهُ وَحْدَهُ |
| لا شَرِيْكَ لَهُ , لا اِلهَ اِلا اللهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ |
| لا اِلهَ اِلا اللهُ ,لا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ الا بِاللهِ |
| Tiada Tuhan yang disembah melainkan Allah yang Maha Besar |
| Tiada Tuhan melainkan Allah sendiriNya |
| Tiada sekutu bagiNya, Tiada Tuhan melainkan Allah |
| bagiNyalah Pemerintahan dan Kerajaan dan bagiNya segala pujian |
| Tiada Tuhan melainkan Allah |
| Tiada daya dan upaya melainkan dengan kehendak Allah |
| Rasulullah s.a.w. menyapukan tangan baginda ketubuh ahli keluarga |
| yang sakit dengan tangan kanan lalu membaca |
| اَللهُمَّ رَبِّ النَّاسِ مَذْهِبَ البَأسِ اِشفِ اَنْتَ الشَّافِى |
| لا شَافِى اِلا اَنْتَ شِفَاءً لا يُغَادِرُ سَقَمَا |
| Ya Allah, Tuhan segala manusia, yang menghilangkan penyakit |
| sembuhkanlah. Engkaulah penyembuh selain Engkau |
| sembuh yang tidak meninggalkan sakit lagi |
| Riwayat Muslim |
| Doa untuk menyembuh bisul dan ketumbuhan |
| اَللهُمَّ مُصَغَرَ الْكَبِيرِ وَمُكَبِّرَ الصَّغِيرِ صَغِّرْ مَابِى |
| Ya Allah , Tuhan yang mengecilkan yang besar dan membesarkan yang kecil |
| kecilkanlah apa yang tumbuh pada badanku. |
| Doa untuk sembuhkan pening dan demam |
| بسم الله الر حمن الر حيم, بسم الله الْكَبِيرِ |
| نَعُوذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ مِنْ شَرِّعَرقٍ نَعَّارٍ وَمِنْ شَرِّحَرِّ النَّارِ |
| Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, |
| Dengan nama Allah yang Maha Besar |
| kami berlindung dengan Allah dari kejahatan peluh yang mendidihkan darah |
| dan dari kejahatan kepanasan neraka |
| Doa sebelum makan/minum ubat |
| بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْمِ |
| أَذْهِبِ الْبَائْسَ رَبَّ النَّاسِ اِشْفِ اَنْتَ الشَّافِى |
| َلا شَافِىَ اِلا اَنْتَ اَللهُمَّ اِنِّى اَسْئَلُكَ الْعَافِيَةَ |
| Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang |
| Wahai Tuhan manusia, hilangkanlah derita, sembuhkanlah, |
| Engkaulah yang Maha Penyembuh. Tiada Penyembuh kecuali Engkau |
| Ya Allah aku mohon sehat afiat kepadaMu |
| Doa selepas makan/minum obat |
| اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى كَفَانَا وَاَرْوَانَا غَيْرَمَكْفِيَ وَلا مَكْفُورِ |
| Segala puji bagi Allah yang telah memberi kepada kami kecukupan |
| dan kepuasan yang tidak terabaikan dan tidak tertolak |
| Doa supaya lekas sembuh |
| اَسْاَلُ اللهَ الْعَظِيْمَ اَنْ يَشْفِيَنِى شِفَاءً لا يُغَادِرُ سَقَمًا |
| Aku mohon kepada Allah yang Maha Agung agar menyembuhkanku |
| benar-benar sembuh yang tidak terabaikan dan tidak tertolak. |
| Allah menjadikan penyakit dan Allah telah menyediakan penawarnya |
| Berusahalah mencari penawar. |
| Iringi dengan doa dan tawakkal kepada Allah |
| Asal |
| Hak Cipta Terpelihara © Muhammad Khairi. 2006 |
Selasa, 20 November 2012
Doa Kesembuhan
Minggu, 16 September 2012
ARISAN KELUARGA
Arisan ini diadakan setiap 2 (dua) bulan sekali dan hari ini akan diadakan di Keluarga Pakde Tijan yang tinggal di daerah Sawo Kecik, Tebet, Jakarta Selatan. Arisan kali ini adalah arisan pertama setelah Halal Bil Halal yang diadakan di Kampung Halaman pada Lebaran bulan Agustus 2012 kemarin.
Sebelum arisan hari ini, saya 2 (dua) kali tidak dapat mengikuti pertemuan arisan yang disebabkan karena beberapa hal. Bulan April 2012 bertempat di Condet saya tidak bisa mengikuti dikarenakan sedang terapi di daerah Cibinong, sedangkan di bulan Juni 2012 bertempat di Tangerang juga tidak dapat mengikuti karena alasan kesehatan.
Beberapa tahun ini, kondisi kesehatan saya memang drop, yaitu berkaitan dengan vertigo yang sering kumat. Semoga saja saya tetap mampu menjalani hidup ini, walau vertigo yang saya derita sejak tahun 2000 masih suka menggangu aktivitas sehari-hari.
Jumat, 01 Juni 2012
MAAFKAN HAMBA YA ALLAH
Senin, 05 Maret 2012
DO'A MENGHADAPI KESULITAN
Allah Mahakuasa melakukan apa saja. Dia mampu menjadikan segala kemudahan menjadi sesuatu yang sulit, juga sesuatu yang sulit menjadi mudah. Tidak ada yang susah bagi-Nya, karena Dia Mahakuasa atas segala-galanya. Karenanya ketika menghadapi kesulitan dan berbagai cobaan hidup kita tidak boleh putus asa. Masih ada Allah yang bisa kita minta dan mohon pertolongan-Nya. Maka kita diperintahkan untuk berdoa saat mengalami kesulitan :
اَللَّهُمَّ لا سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَ أَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً
Allaahumma Laa Sahla Illaa Maa Ja’altahu Sahlaa Wa Anta Taj’alul Hazna Idza Syi’ta Sahlaa
“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Dan apabila Engkau berkehendak, Engkau akan menjadikan kesusahan menjadi kemudahan. ( (HR. Ibnu Hibban dalam SHAHIHNYA no. 2427, Ibnu Sunni dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah no. 351, Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashfahan: 2/305, Imam Al-Ashbahani dalam al-Targhib: 1/131 )
Sebaiknya seorang muslim membiasakan diri dengan doa yang diajarkan oleh sunnah dalam menghadapi kesulitan. Karena orang yang mengajarkannya, yaitu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, adalah manusia paling tahu dengan doa yang pas dan paling bermanfaat serta didalam hadist yang shahih.
Selasa, 07 Februari 2012
MEMENEJ PIKIRAN KALA SAKIT
Banyak hal yang tidak kita inginkan tiba-tiba datang menimpa. Hal tersebut sering menyebabkan tertekannya perasaan yang berujung pada penderitaan. Salah satunya adalah penyakit. Ya, saat-saat kita ditimpa sakit. Adalah lazim bila sebagian kita jatuh mengeluh tatkala sakit. Tubuh lunglai, wajah kuyu, dan pudar cahayanya.
Sebenarnya, yang paling berbahaya adalah bila kita tidak bisa memenej pikiran dengan baik. Biasanya menerawang jauh, realitas yang ada didramatisasi, segalanya dipersulit, hingga makin parah dan menegangkan. Orang yang terkena gejala tumor misalnya, akan menjadi sengsara jika yang menjadi buah pikirannya adalah sesuatu yang lebih mengerikan dari kondisi sebenarnya. Ah, jangan-jangan tumor ganas. Bagaimana kalau merambat ke seluruh tubuh, sehingga harus dioperasi? Lalu, bagaimana kalau operasinya gagal? Belum lagi biayanya yang pasti akan sangat mahal. Bila hal ini terjadi, maka orang tersebut akan jauh lebih menderita daripada kenyataan sebenarnya.
Hal ini terjadi karena kesalahan cara berpikir. Ia belum paham terhadap hikmah dari sakit yang menimpa, sehingga salah dalam menyikapinya. Hasilnya jelas, rugi dunia akhirat. Sikap semacam ini harus kita buang jauh-jauh. Memang benar kita harus sehat. Sebab dengan badan sehatlah gerak hidup menjadi lancar. Kalau pun tubuh kita harus sakit, suatu saat nanti, maka hati kita harus tetap berfungsi dengan baik.
Bagaimana menyiasatinya?
Pertama, yakin bahwa hidup akan selalu dipergilirkan. Mungkin sekarang kita sehat, tapi esok hari kita sakit. Ini sebuah keniscayaan. Allah SWT berfirman, Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (QS Al-Baqarah [2]: 155).
Kedua, yakin bahwa semua yang terjadi ada dalam genggaman Allah SWT. Difirmankan, Kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya (sekarang) dan (mengetahui pula) hari (saat manusia) dikembalikan kepada-Nya, lalu diterangkan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS An-Nuur [24]: 64).
Alam semesta berikut isinya benar-benar milik Allah SWT. Dialah yang menciptakan, mengatur dan mengurusnya setiap saat. Sedangkan kita, jangankan membuat, menggambarnya saja tidak mampu. Sekali lagi, semuanya ada dalam genggaman Allah SWT. Dia kuasa melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya, tanpa dapat dicegah, ditolak dan dihalangi. Begitu pula kalau Allah menghendaki kita sakit. Sangat wajar, karena tubuh kita adalah milik Allah SWT. Kenapa kita harus putus asa? Ibarat seseorang menitipkan baju kepada kita. Kalau suatu saat diambil, kurang layak bila kita menahannya.
Ketiga, yakin bahwa Allah Mahaadil dan Mahabijaksana. Dia Mahatahu akan kadaan tubuh kita. Semua yang ditimpakan kepada kita sudah diukur dengan sangat sempurna dan mustahil "overdosis". Difirmankan, "Allah SWT tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapatkan pahala dari kebaikan yang diusahakannya dan mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya." (QS Al-Baqarah [2]: 286).
Karena itu, sangat tidak tepat bila kita membebani pikiran dengan mendramatisasi masalah apalagi sampai berburuk sangka kepada Allah SWT. Tentu, akan lebih baik bila kita kerahkan segala potensi yang ada untuk meraih hikmah di balik semua kejadian.
Sahabat, bila kita telah memahami hikmahnya, sakit bisa kita nikmati sebagai ujian kesabaran serta sarana pengugur dosa-dosa kita. Bukankah kita selalu merindukan ampunan-Nya? Inilah salah satu bentuk pengabulan doa kita tersebut.
Rasulullah SAW bersabda, "Ketika seseorang ditimpa penderitaan (sakit), maka Allah mengutus dua malaikat kepadanya. Dia berfirman, 'Dengarkanlah apa kata hamba-Ku ketika ditengok orang-orang'. Jika ia mengucapkan alhamdulillah, maka Allah berfirman kepada dua malaikat tersebut, 'Sampaikanlah kepadanya, jika Aku mematikannya karena penyakitnya, maka ia pasti masuk syurga; dan jika Aku sembuhkan, maka pasti daging dan darahnya akan Aku ganti dengan yang lebih baik dari asalnya, serta Aku jadikan penderitaan (penyakitnya) sebagai penebus dosa-dosanya." (HR Al Faqih).
Hikmah lainnya, sakit bisa dijadikan sebagai sarana tafakur. Dengan sakit, kita dapat terhindar dari kemaksiatan yang mungkin akan kita lakukan ketika sehat. Kita menjadi insyaf akan penting dan mahalnya harga kesehatan yang seringkali kita sia-siakan.
Sakit pun bisa menjadi jalan rezeki bagi dokter dan petugas kesehatan, sekaligus menjadi ladang amal bagi mereka bila ikhlas. Sedangkan bagi kita, berobat jadi ladang pahala ikhtiar. Soal sembuh tidaknya, serahkan kepada Allah semata. Pahala ikhtiar akan kita dapatkan sepanjang ikhtiar yang kita lakukan sesuai ketentuan-Nya. Insya Allah.
( KH Abdullah Gymnastiar )
Sabtu, 21 Januari 2012
SEMBUHKAN SAKIT DENGAN SEDEKAH
Salah satu penyebab utama banyaknya penyakit adalah merebaknya kemaksiatan yang dilakukan dengan terang-terangan tanpa malu. Kemaksiatan yang menyebar di tengah masyarakat dapat membinasakan mereka. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri”. (QS. asy-Syura: 30).
Di antara hikmah penyakit yang diderita seorang hamba adalah sebagai ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya. Dunia merupakan tempat berseminya berbagai musibah, kesedihan, kepedihan, dan penyakit.
Ketika saya melihat orang sakit bergulat dengan rasa sakitnya dan menyaksikan orang yang membutuhkan pertolongan dengan menahan rasa perihnya, mereka telah melakukan berbagai macam ikhtiar namun mereka melewatkan sebab penyembuhan yang hakikatnya dari Allah ‘Azza wa Jalla, maka saya tergerak menulis risalah ini untuk semua orang yang sedang sakit, agar rasa duka dan sedihnya lenyap, dan penyakitnya dapat terobati (insya Allah).
Wahai anda yang sedang sakit menahan lara, yang sedang gelisah menanggung duka, yang tertimpa musibah dan bala, semoga keselamatan selalu tercurah kepadamu, sebanyak kesedihan yang menimpamu, sebanyak duka nestapa yang kau rasakan.
Penyakitmu telah memutuskan hubunganmu dengan manusia, menggantikan kesehatanmu dengan penderitaan. Orang lain mampu tertawa sedang engkau menangis. Sakitmu tidak kunjung reda, tidurmu tidak nyenyak, engkau berharap kesembuhan walau harus membayar dengan semua yang engkau punya.
Saudaraku yang sedang sakit! Saya tidak ingin memperparah lukamu, namun saya akan memberimu obat mujarab dan membuatmu terlepas dari derita yang menahun. Obat ini didapat dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah”. (HR. Abu Dawud, dihasankan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’).
Benar saudaraku, obatnya adalah sedekah dengan niat mencari kesembuhan. Mungkin engkau telah banyak sedekah, namun tidak engkau niatkan agar Allah Ta’ala menyembuhkanmu dari penyakit. Cobalah sekarang dan hendaknya engkau yakin bahwasanya Allah Ta’ala akan menyembuhkanmu. Berilah makan orang fakir, atau tanggunglah beban anak yatim, atau wakafkanlah hartamu, atau keluarkanlah sedekah jariahmu.
Sungguh sedekah dapat menghilangkan penyakit dan kesulitan, musibah atau cobaan. Mereka yang diberi taufik oleh Allah Ta’ala telah mencoba resep ini. Akhirnya mereka mendapatkan obat ruhiyah yang lebih mujarab daripada obat jasmani. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengobati dengan obat ruhiyah sekaligus obat ilahiyah.
Para salafush shalih juga mengeluarkan sedekah yang sepadan dengan penyakit dan musibah yang menimpa mereka. Mereka mengeluarkan harta mereka yang paling mereka cintai. Jangan kikir untuk dirimu sendiri, jika engkau memang memiliki harta dan kemudahan. Inilah kesempatannya telah datang!
* Dikisahkan bahwa Abdullah bin Mubarak pernah ditanya oleh seorang laki-laki tentang penyakit yang menimpa lututnya semenjak tujuh tahun. Ia telah mengobati lututnya dengan berbagai macam obat. Ia telah bertanya kepada para dokter, namun tidak menghasilkan apa-apa.
Ibnu al-Mubarak pun berkata kepadanya, “Pergi dan galilah sumur, karena manusia sedang membutuhkan air. Saya berharap akan ada mata air dalam sumur yang engkau gali dan dapat menyembuhkan sakit di lututmu. Laki-laki itu lalu menggali sumur dan ia pun sembuh”. (Kisah ini terdapat dalam “Shahih at-Targhib”).
* Kisah lain, orang yang mengalami peristiwa ini menceritakan kepadaku, “Anak perempuan saya yang masih kecil menderita penyakit di tenggorokan. Saya membawanya ke beberapa rumah sakit. Saya menceritakan panyakitnya kepada banyak dokter, namun tidak ada hasilnya. Dia belum juga sembuh, bahkan sakitnya bertambah parah.
Hampir saja saya ikut jatuh sakit karena sakit anak perempuan saya yang mengundang iba semua keluarga. Akhirnya dokter memberinya suntikan untuk mengurangi rasa sakit, hingga kami putus asa dari semuanya kecuali dari rahmat Allah Ta’ala. Hal itu berlangsung sampai datangnya sebuah harapan dan dibukanya pintu kelapangan.
Seorang shalih menghubungi saya dan menyampaikan sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Obatilah orang sakit di antara kalian dengan sedekah”. (HR. Abu Dawud, dihasankan oleh al-Albani). Saya berkata, “Saya telah banyak bersedekah”. Ia pun menjawab, “Bersedekahlah kali ini dengan niat untuk kesembuhan anak perempuanmu”.
Saya pun mengeluarkan sedekah sekedarnya untuk seorang fakir, namun tidak ada perubahan. Saya kemudian mengabarinya dan ia berkata, “Engkau adalah orang yang banyak mendapatkan nikmat dan karunia Allah Ta’ala, bersedekahlah sebanding dengan banyaknya hartamu”.
Saya pun pergi pada kesempatan kedua, saya penuhi isi mobil saya dengan beras, ayam dan bahan-bahan sembako dan makanan lainnya dengan menghabiskan uang yang cukup banyak. Saya lalu membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan dan mereka senang dengan sedekah saya.
Demi Allah saya tidak pernah menyangka bahwa setelah saya mengeluarkan sedekah itu, anak saya tidak perlu disuntik lagi, anak saya sembuh total, walhamdulillah. Saya yakin bahwa faktor (yang menjadi sebab) paling besar yang dapat menyembuhkan penyakit adalah sedekah. Sekarang sudah berlalu tiga tahun, ia tidak merasakan penyakit apapun.
Semenjak itu saya banyak mengeluarkan sedekah khususnya berupa wakaf. Setiap saat saya merasakan hidup penuh kenikmatan, keberkahan, dan sehat sejahtera baik pada diri pribadi maupun keluarga saya.
Saya mewasiatkan kepada semua orang sakit agar bersedekah dengan harta mereka yang paling mereka cintai, dan mengeluarkan sedekah terus menerus, niscaya Allah Ta’ala akan menyembuhkannya walaupun hanya sebagian penyakit. Saya yakin kepada Allah Ta’ala dengan apa yang saya ceritakan. Sungguh Allah Ta’ala tidak melalaikan balasan untuk orang yang berbuat baik.
Marilah saudaraku, pintu telah terbuka, tanda kesembuhan telah tampak di depanmu, bersedekahlah dengan sungguh-sungguh dan percayalah kepada Allah Ta’ala. Jangan seperti orang yang melalaikan resep yang mujarab ini, hingga ia tidak mengeluarkan sebagian hartanya untuk bersedekah lagi. Padahal bertahun-tahun ia menderita sakit dan mondar-mandir ke dokter untuk mengobati panyakitnya, dengan merogoh banyak uang dari sakunya.
Jika engkau telah mencoba resep ini dan engkau sembuh, jadilah orang yang selalu menolong orang lain dengan harta dan usahamu. Jangan engkau membatasi diri dengan sedekah untuk dirimu sendiri, namun obatilah penyakit orang-orang yang sakit dari keluargamu dengan sedekah. Jika engkau tidak sembuh total, maka ketahuilah bahwa engkau sebenarnya telah disembuhkan walaupun sedikit. Keluarkan sedekah lagi, perbanyak sedekah semampumu. Jika engkau masih belum sembuh, mungkin Allah Ta’ala memperpanjang sakitmu untuk sebuah hikmah yang dikehendakiNya atau karena kemaksiatan yang menghalangi kesembuhanmu. Jika demikian cepatlah bertaubat dan perbanyak doa di sepertiga malam terakhir.
Sedangkan bagi anda yang diberikan nikmat sehat oleh Allah Ta’ala, jangan tinggalkan sedekah dengan alasan engkau sehat. Seperti halnya orang yang sakit bisa sembuh maka orang yang sehat pun bisa sakit. Sebuah pepatah mengatakan, “Mencegah lebih baik dari mengobati”.
Minggu, 15 Januari 2012
KARAKTERISTIK RUMAH TANGGA ISLAMI
Rumah tangga Islami adalah sebuah rumah tangga yang didirikan di atas landasan ibadah yang di dalamnya ditegakkan adab-adab Islam, baik menyangkut individu maupun keseluruhan anggota rumah tangga. Mereka bertemu dan berkumpul karena Allah, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, serta saling menyuruh kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar, karena kecintaan mereka kepada Allah. Mereka betah tinggal di dalamnya karena kesejukan iman dan kekayaan ruhani. Mereka berkhidmat kepada Allah swt dalam suka maupun duka, dalam keadaan senggang maupun sempit.
Rumah tangga Islami adalah rumah yang di dalamnya terdapat iklim yang sakinah (tenang), mawadah (penuh cinta), dan rahmah (sarat kasih sayang). Perasaan itu senantiasa melingkupi suasana rumah setiap harinya. Seluruh anggota keluarga merasakan suasana "surga" di dalamnya. Baiti jannati, demikian slogan mereka sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Subhanallah!
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." (QS Ar-Ruum 30:21)
Prinsip-prinsip dasar rumah tangga bisa disebut Islami dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut.
Pertama, Tegak di Atas Landasan Ibadah
Rumah tangga Islami harus didirikan dalam rangka beribadah kepada Allah semata. Artinya, sejak proses memilih jodoh, landasannya haruslah benar. Memilih pasangan hidup haruslah karena kebaikan agamanya, bukan sekedar karena kecantikan atau ketampanan wajah, kekayaan, maupun atribut-atribut fisikal lainnya. Proses bertemu dan menjalin hubungan hingga kesepakatan mau melangsungkan pernikahan harus tidak lepas dari prinsip ibadah. Prosesi pernikahannya pun, sejak akad nikah hingga walimah, tetap dalam rangka ibadah, dan jauh dari kemaksiatan. Sampai akhirnya, mereka menempuh bahtera kehidupan dalam suasana ta'abudiyah (peribadahan) yang jauh dari dominasi hawa nafsu.
Kedua, Nilai-Nilai Islam dapat Terinternalisasi Secara Kaffah
Internalisasi nilai-nilai Islam secara kaffah (menyeluruh) harus terjadi dalam diri setiap anggota keluarga, sehingga mereka senantiasa komit terhadap adab-adab Islami. Untuk itu, rumah tangga Islami dituntut untuk menyediakan sarana-sarana tarbiyah yang memadai, agar proses belajar, mencerap nilai dan ilmu, sampai akhirnya aplikasi dalam kehidupan sehari-hari bisa diwujudkan.
Ketiga, Hadirnya Qudwah yang yata
Diperlukan qudwah (keteladanan) yang nyata dari sekumpulan adab Islam yang hendak diterapkan. Orang tua memiliki posisi dan peran yang sangat penting dalam hal ini. Sebelum memerintahkan kebaikan atau melarang kemungkaran kepada anggota keluarga yang lain, pertama kali orang tua harus memberikan keteladanan.
Keempat, Masing-Masing Anggota Keluarga Diposisikan Sesuai Syariat
Dalam rumah tangga Islami, masing-masing anggota keluarga telah mendapatkan hak dan kewajibannya secara tepat dan manusiawi. Suami adalah pemimpin umum yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup rumah tangga. Istri adalah pemimpin rumah tangga untuk tugas-tugas internal.
Kelima, Terbiasakannya Ta’awun dalam Menegakkan Adab-Adab Islam Berkhidmat dalam kebaikan tidaklah mudah, amat banyak gangguan dan godaannya. Jika semua anggota keluarga telah bisa menempatkan diri secara tepat, mka ta'awun (tolong-menolong) dalam kebaikan ini akan lebih mungkin terjadi.
Keenam, Rumah Terkondisikan bagi Terlaksananya Peraturan Islam
Rumah tangga Islami adalah rumah yang secara fisik kondusif bagi terlaksananya peraturan Islam. Adab-adab Islam dalam kehidupan rumah tangga akan sulit diaplikasikan jika struktur bangunan rumah yang dimiliki tidak mendukung.
Ketujuh, Tercukupinya Kebutuhan Materi secara Wajar
Demi mewujudkan kebaikan dalam rumah tangga Islami itu, tak lepas dari faktor biaya. Memang materi bukanlah segala-galanya. Ia bukan pula merupakan tujuan dalam kehidupan rumah tangga tersebut. Akan tetapi, tanpa materi, banyak hal tak bisa didapatkan.
Kedelapan, Rumah Tanggga Dihindarkan dari Hal-Hal yang Tidak Sesuai dengan Semangat Islam
Menyingkirkan dan menjauhkan berbagai hal dalam rumahtangga yang tak sesuai dengan semangat keislaman harus dilakukan. Pada kasus-kasus tertentu yang dapat ditolerir, benda-bendam hiasan, dan peralatan harus dibuang atau dibatasi pemanfaatannya.
Kesembilan, Anggota Keluarga Terlibat Aktif Dalam Pembinaan Masyarakat
Rumah tangga Islami harus memberikan kontribusi yang cukup bagi kebaikan masyarakat sekitarnya, sebagai sebuah upaya pembinaan masyarakat (ishlah al-mujtama') menuju pemahaman yang benar tentang nilai-nilai Islam yang shahih, untuk kemudian berusaha bersama-sama membina diri dan keluarga sesuai dengan arahan Islam. Betapa pun taatnya keluarga kita terhadap norma-norma Ilahiyah, apabila lingkungan sekitar tidak mendukung, pelarutan-pelarutan nilai akan mudah terjadi, lebih-lebih pada anak-anak.
Kesepuluh, Rumah Tangga Dijaga dari Pengaruh Lingkungan yang Buruk
Dalam kondisi keluarga islami yang tak mampu memberikan nilai kebaikan bagi masyarakat sekitar yang terlampau parah kerusakannya, maka harus dilakukan upaya-upaya serius untuk, paling tidak, membentengi anggota keluarga. Harus ada mekanisme penyelamatan internal, agar tak larut dan hanyut dalam suasana jahili masyarakat di sekitarnya. Pada suatu kasus yang sudah amat parah, keluarga muslim bahkan harus meninggalkan lokasi jahiliyah itu dan mencari tempat lain yang lebih baik. Hal ini dilakukan demi kebaikan mereka.
Maraji': Keakhwatan, Cahyadi Takariawan
http://www.pks- jaksel.or. id/Article1072. phtml