Senin, 05 April 2010

BERSYUKURLAH...

AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI oleh karena itu AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN.

Kata-kata di atas merupakan wujud syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.

Kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah anda telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tapi anda masih merasa kurang. Pikiran anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang.

Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki, kita tak pernah menjadi “KAYA” dalam arti yang sesungguhnya.

Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang kaya. Orang yang kaya bukanlah orang yang memiliki banyak hal tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki. Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki.

Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup. Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan dan orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan.

Seorang pengarang pernah mengatakan,

“Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang
yang Anda nikahi” Ini perwujudan rasa syukur.

Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.

Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingk an diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.

Saya ingat, pertama kali bekerja saya senantiasa membandingkan penghasilan saya dengan rekan-rekan semasa kuliah. Perasaan ini membuat saya resah dan gelisah. Sebagai mantan mahasiswa teladan di kampus, saya merasa gelisah setiap mengetahui ada kawan satu angkatan yang memperoleh penghasilan di atas saya.

Nyatanya, selalu saja ada kawan yang penghasilannya melebihi saya. Saya menjadi gemar gonta-ganti pekerjaan, hanya untuk mengimbangi rekan-rekan saya.

Saya bahkan tak peduli dengan jenis pekerjaannya, yang penting gajinya lebih besar. Sampai akhirnya saya sadar bahwa hal ini tak akan pernah ada habisnya. Saya berubah dan mulai mensyukuri apa yang saya dapatkan. Kini saya sangat menikmati pekerjaan saya. Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri.

Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab,”Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup ditanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.”

Bersyukurlah !

Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu. Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar.
Bersyukurlah untuk masa-masa sulit. Di masa itulah kamu tumbuh…
Bersyukurlah untuk keterbatasanmu. Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang.
Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru. Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu.
Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat. Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga.
Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih. Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan.

Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif …
Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan menjadi
berkah bagimu …

Minggu, 04 April 2010

BERPROSES MENJADI INSAN ISTIQOMAH

Rasulullah SAW diutus ke dunia adalah sebagai teladan yang harus diikuti segala ucapan dan perilakunya (QS Al-Ahzab (33:21)). Bila Rasul mencontoh-kan kita untuk istiqomah, maka wajib pula bagi kita istiqomah dalam keimanan. Disabdakan, “Qul, amanu billahi tsumma itstaqim! Katakanlah, aku beriman kepada Allah kemudian istiqomah!”.
Kita tidak mungkin bisa seistiqomah Rasul dalam kebaikan. Beliau terpelihara dari dosa dan kesalahan, sedangkan kita tidak. Dalam khazanah Islam, menurunnya semangat ibadah disebut futur. Pada stadium rendah, futur bisa muncul berupa perasaan malas beribadah, melambat-lambatkan berbuat baik, atau kurang peka terhadap peluang amal. Dalam stadium tinggi (kronis) futur menyebabkan seseorang berhenti beribadah, melakukan dosa besar, bahkan keluar dari Islam.
Rasulullah SAW memberikan panduan kepada kita dalam menyikapi ketidaksempurnaan dan sikap futur ini. “Setiap aktivitas ada saat-saat semangat untuk terus-menerus melakukannya, dan setiap semangat ada saat-saat lemahnya. Barangsiapa yang lemah semangatnnya kemudian mencontoh sunahku, maka sesungguhnya ia akan menang. Dan barang siapa lemah semangatnya kemudian ia tidak mengikuti sunnahku, maka dia celaka” (HR. Ahmad).
Istiqomah adalah syarat menghadirkan kebahagiaan. Namun, perlu usaha ekstra untuk meraih dan menjaganya. Setidaknya ada enam landasan penopang sikap istiqomah ini. Pertama, adalah landasan ilmu. Untuk istiqomah kita harus banyak membaca, banyak mendengar dan banyak tahu. Sehingga ketika kita mengambil sikap, maka sikap tersebut ditopang oleh data lengkap dan landasan yang kuat. Kedua, untuk bisa istiqomah kita tidak bisa seorang diri. Kita harus bergaul dengan orang-orang yang dapat mendorong kita taat asas. Dengan kata lain, kita membutuhkan banyak teman untuk membuat jaringan kebenaran. Ketiga, pantang menyerah dalam meraih tujuan. Syaratnya, kita harus memahami keuntungan dan kerugian sebuah amal. Semakin kita tahu keuntungan, semakin istiqomah pula kita berproses untuk mendapatkannya. Keempat, selalu mengingat mati. Mengingat mati akan membuat kita punya rem dari maksiat, selain membuat kita terbimbing untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat saja. Sebabnya, kita tidak tahu kapan ajal menjemput (QS Al Munafiqun 63 : 11). Kelima, menelaah kehidupan orang-orang yang istiqomah. Manusia adalah peniru yang paling baik. Karena itu, bila kita banyak mengenal karakter orang-orang yang istiqomah, Insya Allah kitapun akan termotivasi meniru sikap mereka. Keenam, melakukan konversi dan kompensasi amal saleh. Konversi artinya mengganti amal saleh yang biasa kita lakukan dengan amal lainnya; tatkala amal yang biasa tersebut tidak bisa kita lakukan. Misal, pada saat haid seorang wanita tidak membaca Al-Qur’an, maka konversikanlah dengan membaca hadis atau tafsirnya. Konversi ini akan menjaga kesinambungan ibadah kita. Sedangkan kompensasi adalah denda (muaqobah) atas suatu amal. Bila kita tidak melakukannya, maka buatlah denda pada diri dengan sedekah atau baca Al-Qur’an. Dengan cara ini, Insya Allah keimanan kita tidak akan turun secara drastis. Wallahu a’lam.

Tiga kunci Hidup Bahagia

hidup.jpg

Apakah rahasia hidup yang bahagia itu? Banyak orang yang mengidentikkan kebahagiaan dengan segala sesuatu yang berada di luar kita, seperti harta benda yang kita miliki. Apakah Anda akan berbahagia jika mempunyai rumah yang indah, mobil mewah, penghasilan yang berlimpah, dan pasangan hidup dan anak-anak yang tampan dan cantik? Mungkin Anda akan mengatakan ”ya.” Tapi, percayalah itu tidak akan berlangsung lama.

Kebahagiaan yang disebabkan hal-hal di luar kita adalah kebahagiaan semu. Kebahagiaan itu akan segera hilang begitu Anda berhasil memiliki barang tersebut. Anda melihat kawan Anda membeli mobil mewah, handphone yang canggih, atau sekadar baju baru. Anda begitu ingin memilikinya.

Anehnya, begitu Anda berhasil memilikinya, rasa bahagia itu segera hilang. Anda merasa biasa-biasa saja. Bahkan, Anda mulai melirik orang lain yang memiliki barang yang lebih bagus lagi daripada yang Anda miliki. Anda kembali berangan-angan untuk memilikinya. Demikianlah seterusnya. Dan Anda tidak akan pernah bahagia.

Budha Gautama pernah mengatakan, ”Keinginan- keinginan yang ada pada manusia-lah yang seringkali menjauhkan manusia dari kebahagiaan. ” Ia benar. Kebahagiaan adalah sebuah kondisi tanpa syarat. Anda tidak perlu memiliki apapun untuk berbahagia. Ini adalah sesuatu yang sudah Anda putuskan dari awal.

Coba katakan pada diri Anda sendiri, ”Saya sudah memilih untuk bahagia apapun yang akan terjadi.” Anda akan merasa bahagia walaupun tidak memiliki harta yang banyak, walaupun kondisi di luar tidak sesuai dengan keinginan Anda. Semua itu tidak akan mengganggu karena Anda tidak menempatkan kebahagiaan Anda disana.

Kebahagiaan yang hakiki terletak di dalam diri Anda sendiri. Inti kebahagiaan ada pada pikiran Anda. Ubahlah cara Anda berpikir dan Anda akan segera mendapatkan kebahagiaan dan ketentraman batin.

Ada tiga pikiran yang perlu senantiasa Anda tumbuhkan. Saya mendapatkan gagasan mengenai tiga kunci kebahagiaan ini setelah merenungkan arti tasbih, tahmid dan takbir yang kita ucapkan tiap hari tapi sering tanpa makna yang mendalam. Saya kira ajaran seperti ini bukan hanya kita temukan dalam Islam saja, tetapi juga dalam ajaran agama yang lain.

Kunci pertama kebahagiaan adalah rela memaafkan. Coba renungkan kata subhanallah. Tuhanlah yang Maha Suci, sementara manusia adalah tempat kesalahan dan kealpaan. Kesempurnaan manusia justru terletak pada ketidaksempurnaanny a. Dengan memahami konsep ini, hati Anda akan selalu terbuka untuk memaafkan orang lain.

Seorang dokter terkenal Gerarld Jampolsky menemukan bahwa sebagian besar masalah yang kita hadapi dalam hidup bersumber dari ketidakmampuan kita untuk memaafkan orang lain. Ia bahkan mendirikan sebuah pusat penyembuhan terkemuka di Amerika yang hanya menggunakan satu metode tunggal yaitu, rela memaafkan!

Kunci kedua adalah bersyukur. Coba renungkan kata alhamdulillah. Orang yang bahagia adalah orang yang senantiasa mengucapkan alhamdulillah dalam situasi apapun. Ini seperti cerita seorang petani miskin yang kehilangan kuda satu-satunya. Orang-orang di desanya amat prihatin terhadap kejadian itu, namun ia hanya mengatakan, alhamdulillah.

Seminggu kemudian kuda tersebut kembali ke rumahnya sambil membawa serombongan kuda liar. Petani itu mendadak menjadi orang kaya. Orang-orang di desanya berduyun-duyun mengucapkan selamat kepadanya, namun ia hanya berkata, alhamdulillah.

Tak lama kemudian petani ini kembali mendapat musibah. Anaknya yang berusaha menjinakkan seekor kuda liar terjatuh sehingga patah kakinya. Orang-orang desa merasa amat prihatin, tapi sang petani hanya mengatakan, alhamdulillah. Ternyata seminggu kemudian tentara masuk ke desa itu untuk mencari para pemuda untuk wajib militer. Semua pemuda diboyong keluar desa kecuali anak sang petani karena kakinya patah. Melihat hal itu si petani hanya berkata singkat, alhamdulillah.
Cerita itu sangat inspiratif karena dapat menunjukkan kepada kita bahwa apa yang kelihatannya baik, belum tentu baik. Sebaliknya, apa yang kelihatan buruk belum tentu buruk. Orang yang bersyukur tidak terganggu dengan apa yang ada di luar karena ia selalu menerima apa saja yang ia hadapi.

Kunci ketiga kebahagiaan adalah tidak membesar-besarkan hal-hal kecil. Coba renungkan kalimat Allahu akbar. Anda akan merasa bahwa hanya Tuhanlah yang Maha Besar dan banyak hal-hal yang kita pusingkan setiap hari sebenarnya adalah masalah-masalah kecil. Masalah-masalah ini bahkan tidak akan pernah kita ingat lagi satu tahun dari sekarang.

Penelitian mengenai stres menunjukkan adanya beberapa hal yang merupakan penyebab terbesar stres, seperti kematian orang yang kita cintai, kecelakaan lalu lintas, dan sebagainya. Hal-hal seperti ini bolehlah Anda anggap sebagai hal yang ”agak besar.” Tapi, bukankah hal-hal ini hanya kita alami sekali-sekali dan pada waktu-waktu tertentu? Kenyataannya, kebanyakan hal-hal yang kita pusingkan dalam hidup sebenarnya hanyalah masalah-masalah kecil.

Oleh: Arvan Pradiansyah
Dosen UI & Pengamat Manajemen SDM

Sabtu, 03 April 2010

Lima Kiat Praktis Menghadapi Persoalan Hidup

Penulis: KH Abdullah Gymnastiar

Bismillahirrahmaanirrahiim,

Suatu hal yang pasti tidak akan luput dari keseharian kita adalah yang disebut masalah atau persoalan hidup, dimanapun, kapanpun, apapun dan dengan siapapun, semuanya adalah potensi masalah. Namun andaikata kita cermati dengan seksama ternyata dengan persoalan yang persis sama, sikap orangpun berbeda-beda, ada yang begitu panik, goyah, kalut, stress tapi ada pula yang menghadapinya dengan begitu mantap, tenang atau bahkan malah menikmatinya.

Berarti masalah atau persoalan yang sesungguhnya bukan terletak pada persoalannya melainkan pada sikap terhadap persoalan tersebut. Oleh karena itu siapapun yang ingin menikmati hidup ini dengan baik, benar, indah dan bahagia adalah mutlak harus terus-menerus meningkatkan ilmu dan keterampilan dirinya dalam menghadapi aneka persoalan yang pasti akan terus meningkat kuantitas dan kualitasnya seiring dengan pertambahan umur, tuntutan, harapan, kebutuhan, cita-cita dan tanggung jawab.

Kelalaian kita dalam menyadari pentingnya bersungguh-sungguh mencari ilmu tentang cara menghadapi hidup ini dan kemalasan kita dalam melatih dan mengevaluasi ketrampilan kita dalam menghadapi persoalan hidup berarti akan membuat hidup ini hanya perpindahan kesengsaraan, penderitaan, kepahitan dan tentu saja kehinaan yang bertubi-tubi. Na'udzubillah.

1. Siap

Siap apa? Siap menghadapi yang cocok dengan yang diinginkan dan siap menghadapi yang tidak cocok dengan keiinginan.

Kita memang diharuskan memiliki keiinginan, cita-cita, rencana yang benar dan wajar dalam hidup ini, bahkan kita sangat dianjurkan untuk gigih berikhtiar mencapai apapun yang terbaik bagi dunia akhirat, semaksimal kemampuan yang Allah Swt berikan kepada kita.

Namun bersamaan dengan itu kitapun harus sadar-sesadarnya bahwa kita hanyalah makhluk yang memiliki sangat banyak keterbatasan untuk mengetahui segala hal yang tidak terjangkau oleh daya nalar dan kemampuan kita.

Dan pula dalam hidup ini ternyata sering sekali atau bahkan lebih sering terjadi sesuatu yang tidak terjangkau oleh kita, yang di luar dugaan dan di luar kemampuan kita untuk mencegahnya, andaikata kita selalu terbenam tindakan yang salah dalam mensikapinya maka betapa terbayangkan hari-hari akan berlalu penuh kekecewaaan, penyesalan, keluh kesah, kedongkolan, hati yang galau, sungguh rugi padahal hidup ini hanya satu kali dan kejadian yang tak didugapun pasti akan terjadi lagi.

Ketahuilah kita punya rencana, Allah Swt pun punya rencana, dan yang pasti terjadi adalah apa yang menjadi rencana Allah Swt.

Yang lebih lucu serta menarik, yaitu kita sering marah dan kecewa dengan suatu kejadian namun setelah waktu berlalu ternyata "kejadian" tersebut begitu menguntungkan dan membawa hikmah yang sangat besar dan sangat bermanfaat, jauh lebih baik dari apa yang diharapkan sebelumnya.

Alkisah ada dua orang kakak beradik penjual tape, yang berangkat dari rumahnya di sebuah dusun pada pagi hari seusai shalat shubuh, di tengah pematang sawah tiba-tiba pikulan sang kakak berderak patah, pikulan di sebelah kiri masuk ke sawah dan yang di sebelah kanan masuk ke kolam. Betapa kaget, sedih, kesal dan merasa sangat sial, jualan belum, untung belum bahkan modalpun habis terbenam, dengan penuh kemurungan mereka kembali ke rumah. Tapi dua jam kemudian datang berita yang mengejutkan, ternyata kendaraan yang biasa ditumpangi para pedagang tape terkena musibah sehingga seluruh penumpangnya cedera bahkan diantaranya ada yang cedera berat, satu-satunya diantara kelompok pedagang yang senantiasa menggunakan angkutan tersebut yang selamat hanyala dirinya, yang tidak jadi berjualan karena pikulannya patah. Subhanalloh, dua jam sebelumnya patah pikulan dianggap kesialan besar, dua jam kemudian patah pikulan dianggap keberuntungan luar biasa.

Oleh karena itu "fa idzaa azamta fa tawaqqal alalloh" bulatkan tekad, sempurnakan ikhtiar namun hati harus tetap menyerahkan segala keputusan dan kejadian terbaik kepada Allah Swt. Dan siapkan mental kita untuk menerima apapun yang terbaik menurut ilmu Allah Swt.

Allah Swt, berfirman dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 216, "Boleh jadi engkau tidak menyukai sesuatu padahal bagi Allah Swt lebih baik bagimu, dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu padahal buruk dalam pandangan Allah Swt."

Maka jikalau dilamar seseorang, bersiaplah untuk menikah dan bersiap pula kalau tidak jadi nikah, karena yang melamar kita belumlah tentu jodoh terbaik seperti yang senantiasa diminta oleh dirinya maupun orang tuanya. Kalau mau mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri, berjuanglah sungguh-sungguh untuk diterima di tempat yang dicita-citakan, namun siapkan pula diri ini andaikata Allah Yang MahaTahu bakat, karakter dan kemampuan kita sebenarnya akan menempatkan di tempat yang lebih cocok, walaupun tidak sesuai dengan rencana sebelumnya.

Melamar kerja, lamarlah dengan penuh kesungguhan, namun hati harus siap andaikata Allah Swt, tidak mengijinkan karena Allah Swt, tahu tempat jalan rizki yang lebih berkah.

Berbisnis ria, jadilah seorang profesional yang handal, namun ingat bahwa keuntungan yang besar yang kita rindukan belumlah tentu membawa maslahat bagi dunia akhirat kita, maka bersiaplah menerima untung terbaik menurut perhitungan Allah Swt. Demikianlah dalam segala urusan apapun yang kita hadapi.

2.Ridha

Siap menghadapi apa pun yang akan terjadi, dan bila terjadi, satu-satunya langkah awal yang harus dilakukan adalah mengolah hati kita agar ridha/rela akan kenyataan yang ada. Mengapa demikian? Karena walaupun dongkol, uring-uringan dan kecewa berat, tetap saja kenyataan itu sudah terjadi. Pendek kata, ridha atau tidak, kejadian itu tetap sudah terjadi. Maka, lebih baik hati kita ridha saja menerimanya.

Misalnya, kita memasak nasi, tetapi gagal dan malah menjadi bubur. Andaikata kita muntahkan kemarahan, tetap saja nasi telah menjadi bubur, dan tidak marah pun tetap bubur. Maka, daripada marah menzalimi orang lain dan memikirkan sesuatu yang membuat hati mendidih, lebih baik pikiran dan tubuh kita disibukkan pada hal yang lain, seperti mencari bawang goreng, ayam, cakweh, seledri, keripik, dan kecap supaya bubur tersebut bisa dibuat bubur ayam spesial. Dengan demikian, selain perasaan kita tidak jadi sengsara, nasi yang gagal pun tetap bisa dinikmati dengan lezat.

Kalau kita sedang jalan-jalan, tiba-tiba ada batu kecil nyasar entah dari mana dan mendarat tepat di kening kita, hati kita harus ridha, karena tidak ridha pun tetap benjol. Tentu saja, ridha atau rela terhadap suatu kejadian bukan berarti pasrah total sehingga tidak bertindak apa pun. Itu adalah pengertian yang keliru. Pasrah/ridha hanya amalan, hati kita menerima kenyataan yang ada, tetapi pikiran dan tubuh wajib ikhtiar untuk memperbaiki kenyataan dengan cara yang diridhai Allah Swt. Kondisi hati yang tenang atau ridha ini sangat membantu proses ikhtiar menjadi positif, optimal, dan bermutu.

Orang yang stress adalah orang yang tidak memiliki kesiapan mental untuk menerima kenyataan yang ada. Selalu saja pikirannya tidak realistis, tidak sesuai dengan kenyataan, sibuk menyesali dan mengandai - andai sesuatu yang sudah tidak ada atau tidak mungkin terjadi. Sungguh suatu kesengsaraan yang dibuat sendiri.

Misalkan tanah warisan telah dijual tahun yang lalu dan saat ini ternyata harga tanah tersebut melonjak berlipat ganda. Orang-orang yang malang selalu saja menyesali mengapa dahulu tergesa-gesa menjual tanah. Kalau saja mau ditangguhkan, niscaya akan lebih beruntung. Biasanya, hal ini dilanjutkan dengan bertengkar saling menyalahkan sehingga semakin lengkap saja penderitaan dan kerugian karena memikirkan tanah yang nyata-nyata telah menjadi milik orang lain.

Yang berbadan pendek, sibuk menyesali diri mengapa tidak jangkung. Setiap melihat tubuhnya ia kecewa, apalagi melihat yang lebih tinggi dari dirinya. Sayangnya, penyesalan ini tidak menambah satu senti pun jua. Yang memiliki orang tua kurang mampu atau telah bercerai, atau sudah meninggal sibuk menyalahkan dan menyesali keadaan, bahkan terkadang menjadi tidak mengenal sopan santun kepada keduanya, mempersatukan, atau menghidupkannya kembali. Sungguh banyak sekali kita temukan kesalahan berpikir, yang tidak menambah apa pun selain menyengsarakan diri.

Ketahuilah, hidup ini terdiri dari berbagai episode yang tidak monoton. Ini adalah kenyataan hidup, kenanglah perjalanan hidup kita yang telah lalu dan kita harus benar-benar arif menyikapi setiap episode dengan lapang dada, kepala dingin, dan hati yang ikhlas. Jangan selimuti diri dengan keluh kesah karena semua itu tidak menyelesaikan masalah, bahkan bisa jadi memperparah masalah.

Dengan demikian, hati harus ridha menerima apa pun kenyataan yang terjadi sambil ikhtiar memperbaiki kenyataan pada jalan yang diridhai Allah swt.


3. Jangan Mempersulit Diri

Andaikata kita mau jujur, sesungguhnya kita ini paling hobi mengarang, mendramatisasi, dan mempersulit diri. Sebagian besar penderitaan kita adalah hasil dramatisasi perasaan dan pikiran sendiri. Selain tidak pada tempatnya, pasti ia juga membuat masalah akan menjadi lebih besar, lebih seram, lebih dahsyat, lebih pahit, lebih gawat, lebih pilu daripada kenyataan yang aslinya, Tentu pada akhirnya kita akan merasa jauh lebih nelangsa, lebih repot di dalam menghadapinya/mengatasinya.

Orang yang menghadapi masa pensiun, terkadang jauh sebelumnya sudah merasa sengsara. Terbayang di benaknya saat gaji yang kecil, yang pasti tidak akan mencukupi kebutuhannya. Padahal, saat masih bekerja pun gajinya sudah pas-pasan. Ditambah lagi kebutuhan anak-anak yang kian membengkak, anggaran rumah tangga plus listrik, air, cicilan rumah yang belum lunas dan utang yang belum terbayar. Belum lagi sakit, tak ada anggaran untuk pengobatan, sementara umur makin menua, fisik kian melemah, semakin panjang derita kita buat, semakin panik menghadapi pensiun. Tentu saja sangat boleh kita memperkirakan kenyataan yang akan terjadi, namun seharusnya terkendali dengan baik. Jangan sampai perkiraan itu membuat kita putus asa dan sengsara sebelum waktunya.

Begitu banyak orang yang sudah pensiun ternyata tidak segawat yang diperkirakan atau bahkan jauh lebih tercukupi dan berbahagia daripada sebelumnya. Apakah Allah SWT. yang Mahakaya akan menjadi kikir terhadap para pensiunan, atau terhadap kakek-kakek dan nenek-nenek? Padahal, pensiun hanyalah salah satu episode hidup yang harus dijalani, yang tidak mempengaruhi janji dan kasih sayang Allah.

Maka, di dalam menghadapi persoalan apa pun jangan hanyut tenggelam dalam pikiran yang salah. Kita harus tenang, menguasai diri seraya merenungkan janji dan jaminan pertolongan Allah Swt. Bukankah kita sudah sering melalui masa-masa yang sangat sulit dan ternyata pada akhirnya bisa lolos?

Yakinlah bahwa Allah yang Mahatahu segalanya pasti telah mengukur ujian yang menimpa kita sesuai dengan dosis yang tepat dengan keadaan dan kemampuan kita. "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan, dan sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan" (QS Al-Insyirah [94]:5-6). Sampai dua kali Allah Swt menegaskan janji-Nya. Tidak mungkin dalam hidup ini terus menerus mendapatkan kesulitan karena dunia bukanlah neraka. Demikian juga tidak mungkin dalam hidup ini terus menerus memperoleh kelapangan dan kemudahan karena dunia bukanlah surga. Segalanya pasti akan ada akhirnya dan dipergilirkan dengan keadilan Allah Swt.

4. Evaluasi Diri

Ketahuilah, hidup ini bagaikan gaung di pegunungan: apa yang kita bunyikan, suara itu pulalah yang akan kembali kepada kita. Artinya, segala yang terjadi pada kita adalah buah dari apa yang kita lakukan. "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula" (QS Al-ZalZalah [99]: 7-8)

Allah Swt Maha Peka terhadap apapun yang kita lakukan. Dengan keadilan-Nya tidak akan ada yang meleset, siapa pun yang berbuat, sekecil dan setersembunyi apapun kebaikan, niscaya Allah Swt, akan membalas berlipat ganda dengan aneka bentuk yang terbaik menurut-Nya. Sebaliknya, kezaliman sehalus apapun yang kita lakukan yang tampaknya seperti menzalimi orang lain, padahal sesungguhnya menzalimi diri sendiri, akan mengundang bencana balasan dari Allah Swt, yang pasti lebih getir dan gawat. Naudzubillah.

Andaikata ada batu yang menghantam kening kita, selain hati harus ridha, kita pun harus merenung, mengapa Allah menimpakan batu ini tepat ke kening kita, padahal lapangan begitu luas dan kepala ini begitu kecil? Bisa jadi semua ini adalah peringatan bahwa kita sangat sering lalai bersujud, atau sujud kita lalai dari mengingat-Nya. Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia, pasti segalanya ada hikmahnya.

Dompet hilang? Mengapa dari satu bus, hanya kita yang ditakdirkan hilang dompet? Jangan sibuk menyalahkan pencopet karena memang sudah jelas ia salah dan memang begitu pekerjaannya. Renungkankah: boleh jadi kita ini termasuk si kikir, si pelit, dan Allah Mahatahu jumlah zakat dan sedekah yang dikeluarkan. Tidak ada kesulitan bagi-Nya untuk mengambil apapun yang dititipkan kepada hamba-hamba-Nya.

Anak nakal, suami kurang betah di rumah dan kurang mesra, rezeki seret dan sulit, bibir sariawan terus menerus, atau apa saja kejadian yang menimpa dan dalam bentuk apapun adalah sarana yang paling tepat untuk mengevaluasi segala yang terjadi. Pasti ada hikmah tersendiri yang sangat bermanfaat, andaikata kita mau bersungguh-sungguh merenunginya dengan benar.

Jangan terjebak pada sikap yang hanya menyalahkan orang lain karena tindakan emosional seperti ini hanya sedikit sekali memberi nilai tambah bagi kepribadian kita. Bahkan, apabila tidak tepat dan berlebihan, akan menimbulkan kebencian dan masalah baru.

Ketahuilah dengan sungguh-sungguh, dengan mengubah diri, berarti pula kita mengubah orang lain. Camkan bahwa orang lain tidak hanya punya telinga, tetapi mereka pun memiliki mata, perasaan, pikiran yang dapat menilai siapa diri kita yang sebenarnya.

Jadikanlah setiap masalah sebagai sarana efektif untuk mengevaluasi dan memperbaiki diri karena hal itulah yang menjadi keuntungan bagi diri dan dapat mengundang pertolongan Allah Swt.

5. Hanya Allah-lah Satu satunya Penolong

Sesungguhnya tidak akan terjadi sesuatu kecuali dengan izin Allah Swt. Baik berupa musibah maupun nikmat. Walaupun bergabung jin dan manusia seluruhnya untuk mencelakakan kita, demi Allah tidak akan jatuh satu helai rambut pun tanpa izin-Nya. Begitu pun sebaliknya, walaupun bergabung jin dan manusia menjanjikan akan menolong atau memberi sesuatu, tidak pernah akan datang satu sen pun tanpa izin-Nya.

Mati-matian kita ikhtiar dan meminta bantuan siapapun, tanpa izin-Nya tak akan pernah terjadi yang kita harapkan. Maka, sebodoh-bodoh kita adalah orang yang paling berharap dan takut kepada selain Allah Swt. Itulah biang kesengsaraan dan biang menjauhnya pertolongan Allah Swt.

Ketahuilah, makhluk itu "La haula wala quwata illa billahil' aliyyil ' azhim" tiada daya dan tiada upaya kecuali pertolongan Allah Yang MahaAgung. Asal kita hanyalah dari setetes sperma, ujungnya jadi bangkai, ke mana-mana membawa kotoran.

Allah menjanjikan dalam Surah Al-Thalaq ayat 2 dan 3, "Barang siapa yang bersungguh-sungguh mendekati Allah (bertaqwa), niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar bagi setiap urusannya, dan akan diberi rezeki dari tempat yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal hanya kepada Allah, niscaya akan dicukupi segala kebutuhannya."

Jika kita menyadari dan meyakininya, kita memiliki bekal yang sangat kukuh untuk mengarungi hidup ini, tidak pernah gentar menghadapi persoalan apapun karena sesungguhnya yang paling mengetahui struktur masalah kita yang sebenarnya berikut segala jalan keluar terbaik hanyalah Allah Swt Yang Mahasempurna. Dia sendiri berjanji akan memberi jalan keluar dari segala masalah, sepelik dan seberat apapun karena bagi Dia tidak ada yang rumit dan pelik, semuanya serba mudah dalam genggaman kekuasaan-Nya.

Pendek kata, jangan takut menghadapi masalah, tetapi takutlah tidak mendapat pertolongan Allah dalam menghadapinya. Tanpa pertolongan-Nya, kita akan terus berkelana dalam kesusahan, dari satu persoalan ke persoalan lain, tanpa nilai tambah bagi dunia dan akhirat kita・benar-benar suatu kerugian yang nyata.

Terimalah ucapan selamat berbahagia, bagi saudara-saudaraku yang taat kepada Allah dan semakin taat lagi ketika diberi kesusahan dan kesenangan, shalatnya terjaga, akhlaknya mulia, dermawan, hati bersih, dan larut dalam amal-amal yang disukai Allah.

InsyaAllah, masalah yang ada akan menjadi jalan pendidikan dan Allah yang akan semakin mematangkan diri, mendewasakan, menambah ilmu, meluaskan pengalaman, melipatgandakan ganjaran, dan menjadikan hidup ini jauh lebih bermutu, mulia, dan terhormat di dunia akhirat.

Semoga, dengan izin Allah, uraian ini ada manfaatnya.

Jumat, 02 April 2010

MULAI DARI HAL-HAL KECIL

motivasi

“Sukses adalah akumulasi dari usaha-usaha kecil, yang dilakukan secara berulang-ulang.”
- Robert Collier -

Apakah anda memiliki target-target penting yang ingin anda capai dalam hidup anda dimana untuk memulainya saja anda sangat bersusah payah? Atau target-target yang sudah anda coba beberapa kali untuk meraihnya namun selalu saja gagal. Sampai-sampai anda berpikir, ada area-area dalam hidup anda yang anda sepertinya tak bisa sukses.

Anda mungkin sukses besar dalam karir, namun anda kesulitan untuk bisa berolahraga teratur minimal seminggu dua kali. Atau anda mendapatkan kelancaran membuka sebuah usaha tahun ini namun program diet anda selalu saja gagal.

Masalahnya mungkin saja anda mencoba untuk berubah terlalu cepat atau terlalu berlebihan. Saya disini akan mencoba berbagi pengalaman bagaimana melakukan suatu perubahan yang permanen. Proses ini jelas memerlukan waktu. Saya tidak bisa memberikan cara bagaimana melakukan perubahan dalam ‘semalam’ karena saya belum pernah melakukannya dan saya pikir hal itu tidak mungkin.

Biasanya orang-orang memiliki komitmen di setiap akhir tahun untuk melakukan perubahan-perubahan di tahun yang baru. Jika anda seperti kebanyakan orang ingin melakukan perubahan-perubahan tersebut dalam sekejap, besar kemungkinan anda akan gagal.

Coba anda sekarang ingat-ingat kembali, apakah ada target-target anda tahun ini yang belum terpenuhi

Saya akan membantu mengingatkan. Mungkin anda ingin :

- Menurunkan berat badan sebanyak 20 kg
- Berhenti merokok
- Mengurangi caffeine
- Jogging mengelilingi komplek setiap pagi
- Bangun pukul 5 pagi setiap hari
- Mulai merintis bisnis online
- ….. (silahkan anda mengisi sendiri)

Semuanya itu adalah target-target penting dalam hidup anda dan memerlukan usaha yang keras untuk merubahnya. Alangkah lebih baik jika anda melakukan langkah-langkah yang lebih terpola dan terkendali meskipun memakan waktu yang lebih lama. Kenapa? Karena sekali anda berubah, perubahan anda akan lebih permanen dibandingkan anda melakukannya dengan terburu-buru.

Identifikasi posisi anda saat ini

Sebelum memulai suatu perubahan, anda perlu mengetahui posisi anda saat ini berada dimana, misalnya : berapa berat badan anda saat ini, berapa batang/bungkus anda merokok setiap hari, berapa sering anda minum kopi, berapa kali anda berolah raga dalam sebulan, dst.

Ambillah langkah-langkah kecil untuk mencapainya

Mungkin akan ada jarak yang sangat besar antara posisi anda saat ini dengan apa yang ingin anda capai, dan anda sepertinya merasa tidak memiliki kekuatan, semangat ataupun disiplin untuk mencapainya.

Seperti yang telah saya sampaikan pada artikel saya terdahulu : Bagaimana Tetap Termotivasi Untuk Menyelesaikan Apa Yang Telah Anda Mulai : Jika anda hanya memikirkan bagaimana mencapai target anda dengan segera, kemungkinan besar anda akan mengalami frustasi/stress.

Pecahlah target anda (break down) menjadi aktivitas-aktivitas kecil, sebagai contoh : jika anda ingin menurunkan berat badan sebanyak 20 kg, bagilah target tersebut menjadi ½ kg per minggu. Ya, anda akan menghabiskan waktu 40 minggu untuk menurunkan berat badan anda, tetapi waktu tersebut pasti akan anda lewati.

Jangan meremehkan kemampuan anda dalam mencapai sesuatu dengan melakukan hal-hal kecil. Daripada anda mencoba mencapai target tersebut dengan cepat, dengan melakukan hal-hal yang ’radikal’, misalkan hanya makan 1 hari sekali atau minum obat pencuci perut, namun setelah 1-2 minggu anda menyerah karena tidak tahan. Anda berarti hanya membuang waktu berharga anda dan fakta ini malah bisa menyakitkan anda : anda mungkin berpikiran ”benar kan, saya tidak bisa sukses”, ”benar kan, saya tidak bisa konsisten dan disiplin.”, dsb.

Oke, cukup teorinya, sekarang saya akan memberikan beberapa contoh praktis :

1)
Target : berhenti mengkonsumsi caffeine
Posisi saat ini : minum 3 gelas kopi setiap hari
Langkah : mengurangi minum kopi menjadi sehari sekali untuk minggu pertama (total 7 gelas seminggu), minggu ke-2 total 6 gelas seminggu, minggu ke-3 total 5 gelas seminggu dst.
Total waktu dibutuhkan : 8 minggu

2)
Target : bangun pukul 5 pagi setiap hari
Posisi saat ini : bangun pukul 7 pagi
Langkah : pasang beker anda 15 menit lebih awal setiap 1 minggu – jangan langsung memundurkan menjadi 2 jam! Percayalah anda akan tersiksa.
Total waktu dibutuhkan : 8 minggu

3)
Target : membuat 100 halaman ebook
Posisi saat ini : 0 halaman
Langkah : setiap hari anda menulis 1 halaman, kecuali hari Sabtu dan Minggu anda menulis 2 halaman. Jadi selama seminggu anda menulis sebanyak 9 halaman.
Total waktu dibutuhkan : 11 minggu

Anda dapat melihat bahwa target-target diatas menjadi masuk akal dan sangat mungkin tercapai dengan aktivitas-aktivitas kecil, termasuk target-target yang pernah anda coba meraihnya namun gagal. Apapun yang anda inginkan, anda dapat meraihnya selama anda tidak menginginkan hasil yang instan. Tidak ada cara instan untuk mencapai kesuksesan.

Mudah-mudahan artikel ini bermanfaat bagi anda. Selamat mencoba.

Kamis, 01 April 2010

Dengan Menyebut Nama Allah SWT Aku Memulai

Bismillahirrahmanirrahim

Dengan menyebut Nama MU Ya Allah, akhirnya kuputuskan untuk membangun website sederhana ini. Hal ini terinspirasi karena keinginan untuk memberikan kontribusi bagi kehidupan seperti impian lama yang hingga saat ini masih kugenggam erat dalam hati, pikiran dan tekadku.

Terima kasih kuucapkan untuk Waheni isteriku dan Ilham Kurniawan putra tunggalku yang telah membuka mataku untuk berkarya lebih baik lagi dan memutuskan menjadi pribadi yang baru dalam mewarnai dunia dengan hal-hal yang dapat menginspirasi siapapun.

Lewat sebuah website sederhana ini saya ingin memberikan sesuatu yang bermanfaat buat siapapun.

Semoga Allah SWT membukakan jalan ... dan meridhoi langkahku ini.

Dengan nama Allah aku melangkah...

"Ya Allah, berilah hambamu ini kekuatan untuk mewujudkan semua mimpi yang terpendam dan menginspirasi hamba-hambamu yang lain untuk melakukan hal yang sama..."

Amin...!
Wassalam

CECEP SAPRUDIN

Sabtu, 20 Maret 2010

Jangan Buru-buru Operasi Sinusitis

Merry Wahyuningsih - detikHealth

Jakarta, Banyak orang yang menderita sinusitis merasa sangat terganggu dengan gejala-gejala yang ditimbulkan. Kebanyakan penderitanya tidak tahan dan akhirnya memutuskan untuk operasi. Pada beberapa kasus, penderita sinusitis melakukan operasi berkali-kali tapi tak kunjung sembuh.

"Sebaiknya sinusitis diobati dengan obat-obat medis, operasi adalah jalan terakhir," ujar Dr. Agus Subagio, Sp THT, dokter spesialis THT yang praktik di RS Puri Indah saat dihubungi detikHealth, Senin (8/3/2010).

Sinusitis adalah peradangan yang terjadi pada rongga sinus. Penyakit ini sering terjadi pada orang yang alergi terhadap pencetusnya misalnya debu atau udara dingin.

Gejala yang ditimbulkan hampir sama dengan flu biasa yang sering terjadi pada musim hujan seperti pilek, hidung tersumbat, berlendir, demam dan sakit kepala (biasanya saat bangun tidur), ingus berwarna kuning atau kehijauan, nafas bau, batuk berlendir, demam tinggi (di atas 39 derajat Celcius), sakit gigi dan kurang sensitif terhadap rasa dan bau.

Kenapa orang yang sudah dioperasi kadang harus melakukan operasi lagi?

Asal tahu saja sinus merupakan penyakit yang gampang kambuh. Jika si penderita tidak pintar-pintar menjauhi pemicunya maka sinus bisa kumat lagi meskipun sudah dilakukan operasi.

"Gagalnya operasi sinusitis hingga harus dilakukan berkali-kali kebanyakan karena faktor dari si penderitanya sendiri," ujar Dr Agus.

Kegagalan itu bisa diakibatkan karena beberapa faktor antara lain:
  1. Tidak adanya perawatan pasca operasi
  2. Pengobatan pada penderita alergi yang kurang baik
  3. Penghindaran terhadap faktor-faktor pencetus,-- seperti debu di ruangan dan kain atau ruangan yang dingin--, yang tidak dilakukan dengan baik.

Maka itu kata Dr Agus, diagnosa pasien sinusitis harus dilakukan dengan baik agar tindakan yang dilakukan tepat. Jika dilakukan operasi harus dibarengi dengan penanganan pasca operasi.

"Jika hal-hal tersebut dipahami dan dijalankan dengan baik tentunya pasien tidak akan mengalami operasi hingga berkali-kali," katanya.

Dr Agus mengatakan operasi hanya dilakukan apabila:
1. Terapi dengan menggunakan obat-obat medis gagal
2. Sudah cukup parah dan menyebabkan komplikasi ke mata (kebutaan), otak (abses otak atau penumpukan nanah di otak), telinga (radang telinga), tenggorokan dan bronkitis.
3. Adanya perubahan struktur hidung yang membuat hidung tersumbat
4. Pada sinusitis kronik yang menimbulkan kista

Sinusitis sendiri disebabkan oleh tiga hal:
1. Adanya sumbatan pada rongga sinus.
Hal ini bisa disebabkan karena kelainan anatomi seperti hidung yang terlalu bengkok, adanya polip karena sel yang membengkak, konka terlalu besar atau tonjolan tulang pada rongga hidung, atau tumor rongga hidung. Penyumbatan ini memudahkan kuman untuk tumbuh dan berkembang yang akhirnya menyebabkan sinusitis.
2. Lendir hidung yang terlau kental, bisa disebabkan karena obat-obatan
3. Sistem pembersihan rongga hidung mengalami kerusakan, yang juga bisa disebabkan karena obat.

Infeksi sinusitis adalah penyakit yang serius. Infeksi sinus bisa menyebabkan beberapa gejala seperti suara sengau, batuk dan demam yang berkepanjangan. Pada kasus yang lebih serius, bisa tumbuh polip.

Studi yang dimuat dalam The American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery menemukan bahwa infeksi sinusitis lebih banyak dialami wanita ketimbang pria.

Seperti dikutip health, kebanyakan penyebabnya adalah adanya bakteri yang berkembang dalam sinusnya, yaitu di bagian belakang hidung, mata, dan tulang pipi. Sinus sendiri merupakan rongga kosong dalam tulang tengkorak kepala (pada daerah sekitar hidung) yang berisi udara.

Udara dingin dan alergi akan memperparah infeksi karena menyebabkan membran selaput lendir di bagian sinus membengkak. Hal itu membuat jalannya ingus terhambat dan terjebak di dalamnya, yang kemudian membuat bakteri berkembang di daerah itu. Akibatnya, rasa sakit di bagian kepala dan wajah pun akan terasa.

Antibiotik mungkin bisa menghilangkan infeksi sinus oleh bakteri, tapi jika yang menyerang adalah virus, antibiotik tidak akan berguna.

Mereka yang berisiko terkena sinus adalah yang sering terkena flu, infeksi pernafasan oleh bakteri atau virus, patah hidung, adanya polip di bagian hidung.

Faktor lainnya seperti merokok, polusi air, pemakaian obat decongestant (obat menghilangkan hidung mampet), udara dingin, penyelam, penerbang dan berenang di air yang terkontaminasi.

Studi terakhir yang dimuat dalam jurnal The American Medical Association, antibiotik ternyata diketahui tidak efektif dan tidak mengenai sasaran. Para pakar pun merekomendasikan pendekatan lain seperti menggunakan ibuprofen atau menghirup uap panas dengan menggunakan air garam.